Saturday, 29 November 2014
Home » Tulisan Kontributor » Artikel » Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan

panen-singkongPercepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) sudah lama diluncurkan oleh pemerintah berdasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 43 Tahun 2009 yang diperbarui dengan Permentan No. 15 Tahun 2013 tentang diversifikasi pangan. Dalam pelaksanaannya beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas program antara lain proporsi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal, perkembangan, penyebaran dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, sosial, citra dan daya terima. Serta pemberian insentif bagi dunia usaha dan masyarakat yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal .

Susunan keragaman pangan didasarkan pada proporsi keseimbangan energi yang berasal dari berbagai kelompok pangan yang sesuai dengan nilai kebutuhan gizi yang dibutuhkan. Nilai kebutuhan gizi tersebut dinilai dari segi daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya dan agama, penilaian ini dikenal dengan Pola Pangan Harapan (PPH). Pengertian dari pola pangan harapan adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama dari suatu pola ketersediaan pangan. FAO-RAPA (1989) Mendefinisikan PPH sebagai “Komposisi kelompok pangan utama yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya”. Konsep PPH merupakan implementasi konsep gizi seimbang  yang didasarkan pada konsep trigunan makanan (Sebagai sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur), keseimbangan jumlah anatar kelompok pangan merupakan syarat terwujudnya keseimbangan gizi. Konsep gizi seimbang juga bergantung pada keseimbangan antara asupan (konsumsi) zat gizi dan kebutuhannya serta jumlahnya antar waktu makan.        

Pangan yang dikonsumsi secara baragam dalam jumlah yang cukup dan seimbang akan mampu memenuhi kebutuhan zat gizi. Keanekaragaman pangan tersebut mencakup kelompok: 1) Padi-padian, 2) Umbi-umbian, 3) Pangan Hewani, 4) Minyak dan Lemak, 5) Buah dan biji berminyak, 6) Kacang-kacangan, 7) Gula, 8) Sayuran dan buah-buahan, 9) Lain-lain. Dibawah ini dapat dilihat Skor Pola Pangan Harapan (PPH) ideal yang ditetapkan oleh pemerintah.

Tabel1

Sesuai dengan Peraturan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, merupakan penguatan agar strategi untuk mengatasi masalah di atas adalah melalui program percepatan diversifikasi konsumsi pangan. Melalui program percepatan ini diharapkan dapat men­dorong terciptanya pening­katan konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang berbasis sumber­daya lokal. Pada sisi lain, pelaksanaan program percepatan diversifikasi konsumsi pangan dapat mendo­rong berkembangnya usaha bidang pangan, sehingga perekonomian keluarga dapat meningkat.

Keberhasilan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan aneka ragam pangan dan perilaku konsumen dalam mengkonsumsi aneka ragam pangan. Efektifitas percepatan penganekaragaman konsumsi pangan akan tercapai apabila upaya internalisasi didukung dan berjalan seiring dengan pengembangan bisnis pangan. Oleh karena itu program penganekargaman pangan nasional dan daerah perlu diselaraskan khususnya dalam pengembangan pertanian, perikanan dan industri pengolahan pangan guna memajukan  perekonomian wilayah. Dengan demikian kita perlu berkomitmen untuk mendorong dan memantapkan pelaksanaan penganekaragaman pangan karena:

  1. Faktor penentu mutu makanan adalah keanekaragaman jenis pangan, keseimbangan gizi dan keamanan pangan oleh sebab perlu adanya upaya untuk menyajikan pangan-pangan olahan yang aman untuk dikonsumsi  yang berasal dari pangan local sehingga dapat meningkatkan citra makanan tradisional
  2. Adanya upaya untuk mengurangi penggunaan beras dan tepung terigu dalam mengolah pangannya agar produk-produk pangan lokal dapat dimanfaatkan dan dijadikan makanan yang memiliki cita rasa tinggi melalui seni kuliner

Dengan demikian manfaat dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mendorong terwujudnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman serta meningkatkan status gizi masyarakat. (RAP)

Sumber:

Pedoman Umum Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat, Badan Ketahanan Pangan Tahun 2012.

Peraturan Menteri Pertanian No. 43 Tahun 2009

Peraturan Menteri Pertanian No. 15 Tahun 2013

About Beranda MITI

Profile photo of Beranda MITI
Beranda MITI merupakan portal informasi mengenai isu-isu terkini dari MITI. Beranda MITI berupaya untuk membentuk masyarakat yang memiliki karakter, mampu memproduksi, mereproduksi, dan bersemangat menambah informasi dan pengetahuan, serta menggunakan secara intensif kemajuan teknologi informasi untuk kesejahteraan dan kejayaan.

Leave a Reply

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes